Dari awal terbentuknya Kendara, semua sepakat bahwa apa yang akan kami berikan bukan hanya hasil foto yang
bagus dan memberikan sudut pandang jujur mengenai kultur mobil di
Indonesia, tetapi juga memberikan cerita, artikel, dan fitur yang bagus seputar
mobil, pemilik dan aspek pendukungnya
kepada para pembaca blog Kendara.
From the
first time we started Kendara, we agreed to not only take good pictures and
present an honest and humble point of view surrounding Indonesian car culture,
but also to present the reader with good stories, articles and features
revolving around the cars, the owner and everything in between.
Awalnya rencana kami adalah mengumpulkan sebanyak mungkin cerita, dengan
cara pendekatan subjek yang sudah disepakati secara bersama, melebur di dalamnya, dikemas dengan sebaik
mungkin dan kami berharapan dapat menginspirasi
para pembaca dengan tulisan dan foto yang sudah kami
buat.
The
initial plan was to gather as many stories as we could, approach the subject
that we agreed on, collect the stories, immerse in it, and convey beautiful and
inspiring stories through our photos and writing for the readers.
Sayangnya, setelah putaran kedua ISSOM 2018 yang diadakan pada 29 April
2018 lalu, gue harus mengkhianati teman-teman di Kendara. Bagian "atas kesepakatan bersama" harus dilewatin dan gue sendiri
yang mengambil keputusan itu. Gue merasa bahwa apa yang akan ditulis di blog
ini harus tanpa persetujuan teman-teman yang lain dan tunggu apa yang akan
terjadi selanjutnya setelah cerita
ini tayang di blog Kendara. Seperti yang Shing02 sebut di lagu berjudul Luv
(sic) Part4 oleh Nujabes, “Tried
to ride it cool but obliged to write it”.
Sedikit cerita, sejak SMA gue selalu punya mimpi dan obsesi untuk satu
mobil tertentu. Bukanlah sebuah Ferrari, Lamborghini atau mobil eksotis
lainnya, tapi sebuah Datsun. Ya sebuah Datsun 510 lebih tepatnya. Ada sesuatu
dengan mobil ini yang bikin obsesi gue makin menjadi-jadi. Desain sederhana,
bentuknya yang kotak, mesin L16 yang gak mengintimidasi untuk dipakai harian,
menggunakan McPherson struts untuk suspensi depan dan suspensi belakang yang
berjenis Independen sudah melengkapi mobil ini sejak keluar dari pabriknya. Sebuah
mobil yang dulu di era tahun 70an dipakai oleh para Ibu untuk mengantar
anak-anak mereka sambil membawa belanjaan dibelakang.
A
little background story, I have always had that one dream car that I have been
obsessed with ever since high school. It’s not a Ferrari, Lamborghini or any
other exotic European car, albeit a Datsun. A Datsun 510 to be precise. There
is just something about this car that speaks to me. The boxy design, the humble-every-day kind of look, not
intimidating yet it packs a punchy little L16 engine as well as McPherson
struts up front and independent rear suspension in the back from the factory.
It was a car for that 1970s mom to roam around town attacking corners with
their kids all while packing groceries in the back.
Sampai sekarang gue sendiri masih mencoba untuk memiliki mobil ini, tapi
susah banget untuk menemukan mobil yang kondisinya pas dan tidak mengenaskan,
antara itu atau dapat mobil yang bagus tapi bikin tabungan gue menjerit karena harganya yang gak sesuai dengan nominal nol yang
ada di rekening. Datsun sampai kapan pun akan selalu menjadi mobil impian gue, Ibaratnya
Chelsea Islan tapi dalam bentuk sebuah mobil. Untuk mobil yang satu ini gue bisa
ngobrol terus-terusan dan bikin bosan kalian,
Udah cukup cerita tentang obsesi dan mimpi gue, karena cerita yang
akan gue tulis kali ini adalah cerita tentang seorang pembalap di ISSOM dengan
510nya yang bagus banget.
I
have been trying to get my hands on one for a while now, but it's just that
either I could not find the right car in the right condition, or that my
savings are screaming at the price of one in an OK condition. It will always be
my dream car, my Chelsea Islan in the form of a car. I could go on and on about
how I yearn for this car and bore you all, but this is not about me, this
little write-up is about the gentleman who races one in ISSOM that I got to
meet along with the guys behind this wonderful 510.
Di putaran pertama ISSOM bulan Maret 2018 lalu, gue berkesempatan untuk
ngobrol dengan seorang kepala mekanik yang
membantu sang pembalap membangun Datsun-nya dari nol. Namanya adalah Om Tiko, yang
kebetulan juga beliau ini
adalah teman sejak kuliah atasan gue dulu, dia merupakan seorang mekanik
terampil dengan skill-nya dan punya
pengetahuan yang banyak untuk urusan mobil sampai hari ini, terutama Alfa Romeo.
In
the first round of ISSOM in March 2018 I had the opportunity to briefly chat
with the mechanic who helped the owner build it from the ground up. His name is
Mr. Tiko, who just happened to be one of my previous boss’s friend from their
college days, he was a skilled mechanic with abundance knowledge on working
with cars, especially Alfa Romeos, and still is up until this very day.
Ngobrol sama beliau semakin membuka wawasan
gue tentang parts yang dipakai dan upgrade yang sudah dikerjakan untuk Datsun
510 ini. Mesin asli Datsun dengan kode L14
akhirnya diganti dengan mesin Datsun L16 yang memiliki kapasitas lebih besar
dan karburator standar diganti
dengan karburator four-barrel dari untuk memberikan debit udara dan bahan bakar yang lebih banyak ke ruang pembakaran melalui intake manifold
dari Kameari. Header dari brand yang
sama akhirnya dipasang ke mobil ini, hal ini
dilakukan oleh Om Tiko untuk memastikan
gas buang mengalir secara merata,
selain itu juga karena sebelumnya sudah dua kali header custom buatan lokal
mengalami kegagalan.
Komponen seperti valve
springs dan valve retainers juga diganti dengan yang
lebih keras agar mesin dapat bekerja di putaran yang lebih tinggi dengan aman,
piston dan setangnya juga dipastikan sudah diganti dengan yang lebih mumpuni,
supaya bisa bekerja dengan optimal saat mesin ini diajak
bekerja dengan kondisi yang ekstrim.
Apa yang telah dikerjakan oleh beliau akhirnya
menghasilkan tenaga sebesar 140 hp dan disalurkan
melalui transmisi 5 speed milik Datsun Stanza ke gardan belakang. Untuk
suspensi juga telah di upgrade sesuai dengan keinginan dari pembalap
dan gak lupa untuk sistem pengereman, memakai disc brake di setiap roda kemudi
mobil ini, agar pengereman-nya optimal.
All
of this results to a healthy 140 horsepower from the engine is transferred via
a Nissan Stanza 5-speed gearbox to the rear differential, and to handle that
sufficient power, the suspension have also been upgraded to suit the driver's
preference, and don't forget disc brakes on four corners so it stops when it
gets told to.
Gampang rasanya untuk menilai sebuah mobil, tapi akan jadi cerita yang berbeda setelah kalian lihat mobil ini secara langsung dan melihat detailnya secara keseluruhan. Apa yang gue
suka dari cara Om Tiko dan sang pembalap saat
membangun Datsun ini adalah, setiap hal
kecil yang dirubah sudah dipikirkan matang-matang terlebih
dahulu dan sepertinya karena perubahan
yang detil tersebut, Datsun ini bisa dipakai untuk harian. Semua trim chrome, bemper dan
emblem yang menempel masih dalam posisi
aslinya. Pintu-pintu bisa ditutup dengan
sempurna – pastinya berkat mekanisme pintu dari
Toyota Avanza – instrumen diatur secara estetis dan interiornya yang sama
sekali gak mengintimidasi. Sang Pembalap sekaligus pemilik Datsun ini bilang
bahwa mobil ini masih dilengkapi dengan surat-surat dan masih memiliki plat
nomor yang berlaku, bikin mobil ini bisa dipakai untuk harian!
Bicara tentang tentang pembalap sekaligus pemilik Datsun 510 ini, Om Iwan, Sebenarnya gue
udah lihat mobil ini waktu putaran
pertama ISSOM 2018, tapi belum sempat
untuk ngobrol lebih dekat lagi dengan beliau. Akhirnnya setelah sebulan berlalu dan di putaran kedua ini baru bisa ngobrol lebih banyak tentang mobilnya. Beliau orang sangat humble dan memiliki kecintaan yang murni tehadap mobil-nya dan balapan itu sendiri.
Speaking
of the gentleman, Mr. Iwan, who owns this 510, during the first round of ISSOM
2018, I saw his car but did not get the chance to talk to him that much, only
after a month later in the second round of, I started to chat with him more
about his car. He was a humble guy with a genuine love for cars and
racing.
Ada beberapa jenis orang yang akan kalian jumpai di skena permobilan Indonesia. Ada orang yang main mobil untuk
status, ada yang untuk ketenaran, demi uang, ada juga orang yang ikutan main
mobil karena semua orang juga melakukan hal yang sama, dan kalau kalian cukup beruntung, kalian akan akan beretemu dengan orang yang main mobil karena murni memiliki passion dengan mobil itu sendiri. Gue percaya bahwa Om Iwan ada
di kategori yang terakhir.
There are many kind of people that you’ll meet in the car scene here in Indonesia. The ones who do it for the status, the ones who do it for the fame, the ones who do it for the money, the ones who do it because everybody's doing it, and if you are lucky enough you will find the one who does it for the pure love of cars. I have a feeling that Mr. Iwan belongs to the latter.
Bisa dilihat dari cara Om Iwan berbicara tentang
mobilnya yang sangat
menikmati di setipa proses mebangun mobilnya. Seperti seseorang yang bisa kalian tanya mengenai setiap detail
kecil dan beliau pasti akan menjawabnya dengan antusias karena mengenal betul bagian luar dan dalam dari
mobilnya.
Menghabiskan waktu di paddock
Om Iwan dan ngobrol mengenai mobilnya adalah
pengalaman yang sangat membuka pikiran dan memberikan pengalaman tersendiri buat gue sebagai penggemar berat
Datsun 510. Dari cara beliau yang
dengan rendah hati menceritakan berbagai kisah seputar 510-nya dan apa yang dilakukan
selama ini adalah bentuk kecintaan-nya terhadap mobil dan menjadi pencarian beliau untuk mendapatkan
sensasi mendebarkan ketika balapan.
Spending a little time in
his paddock talking about his car was a very eye opening and humbling
experience as a big fan of the Datsun 510. From the way he humbly tells every
story revolving around his 510 and how he implies that he is only doing this
for the love and thrill of racing.
Kalian atau paling tidak gue pasti akan mengira bahwa beliau bukan tipe orang yang
kompetitif, tapi tidak sama sekali, ternyata Om Iwan adalah sosok yang
kompetitif, karena itu beliau dan 510-nya mampu
melewati mobil balap lain yang bermesin 4A-GE, sementara mesin L16-nya terdengar merdu saat melewati lintasan di
Sentul dibandingkan suara dari mobil lain yang justru terdengar bising. Akhirnya setelah 10 lap, Om Iwan dan 510-nya finish di urutan ketiga pada kelasnya pada
hari itu.
You
- or at least I did - might guess that he is not the extremely competitive kind
of person,though partly true, but he and his little 510 actually did very very
good on the track. Whizzing through a bunch of 4AGE powered race cars, the L16
engine sings rather than shouts like most of the others, and it composedly
weaved through the corners of Sentul. After 10 laps Mr. Iwan and his 510
finished third in his class that day.
Sebenarnya masih banyak cerita menarik, pengetahuan dan ilmu yang ingin gue dapatkan dari Om Iwan dan 510-nya. Terutama tentang proses saat membangun mobilnya dan pengalaman beliau memiliki 510 saat masih menjadi mahasiswa ketika kuliah
dulu. Tapi gue rasa cerita itu akan disimpan
untuk lain waktu.